Manfaat Sampah Untuk Kehidupan

Manfaat Sampah,Manfaat sampah untuk kehidupan
Manfaat Sampah
Flukutu.com – Sampah dalam hal ini merupakan permasalahan lingkungan yang tidak pernah usai, semakin modern kehidupan manusia, maka kuantitas sampah yang dihasilkan pun akan semakin meningkat. Hal itu terlihat dari kecenderungan meningkatnya produksi sampah di daerah perkotaan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Yang diperkirakan, rata-rata setiap orang per hari dapat menghasilkan 1-2 kg sampah.

Pengertian Sampah

Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam te rsebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.

Jenis-Jenis Sampah

Berikut ini adalah jenis-jenis dari sampah, sebagai berikut:

1. Berdasarkan sumbernya meliputi:

  1. Sampah alam
  2. Sampah manusia
  3. Sampah konsumsi
  4. Sampah nuklir
  5. Sampah industri
  6. Sampah pertambangan

2. Berdasarkan sifatnya

2.1. Sampah organik – dapat diurai (degradable)
Yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
2.2. Sampah anorganik – tidak terurai (undegradable)       
Yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;

3. Berdasarkan bentuknya

Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:
3.1. Sampah Padat
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.
Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
3.1.1 Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
3.1.2 Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
3.1.2.1 Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.
3.1.2.2 Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.
3.2 Sampah Cair
Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
3.2.1 Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.
3.2.2 Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.
Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan,manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
Untuk mencegah sampah cair adalah pabrik pabrik tidak membuang limbah sembarangan misalnya membuang ke selokan.
3.3 Sampah Alam
Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.
3.4 Sampah Manusia
Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.
3.5 Sampah Konsumsi
Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.
3.6 Limbah radioaktif
Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).

4. Ancaman Bagi Kawasan Wisata Alam

Dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:
4.1 Gangguan Kesehatan:
  • Timbulan sampah dapat menjadi tempat pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi;
  • Timbulan sampah dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus;
  • Menurunnya kualitas lingkungan
  • Menurunnya estetika lingkungan
  • Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata;
4.2 Terhambatnya pembangunan negara
Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun.

Pengelolaan Sampah

Tipe pengelolaan sampah

Pada dasarnya terdapat 2 macam pengelolaan sampah, yaitu pengelolaan / penanganan sampah setempat (individu) dan pengelolaan sampah terpusat untuk suatu lingkungan permukiman atau kota. Penanganan setempat adalah penanganan yang dilaksanakan sendiri oleh sipenghasil sampah. Sedangkan pengelolaan secara terpusat, khususnya dalam teknis operasional, adalah suatu proses atau kegiatan penanganan sampah yang terkoodinir.
Jika yang akan dilaksanakan adalah sistem penanganan yang terpusat, maka adanya suatu institusi yang menangani langsung pengelolaan persampahan mutlak diperlukan. Institusi dalam sistem pengelolaan persampahan memegang peranan yang sangat penting meliputi, status, struktur organisasi, fungsi, tanggung jawab dan wewenang serta koordinasi vertikal maupun horisontal dari badan pengelola.

 Organisasi dan personil

Adapun struktur organisasi hendaknya disusun dengan mempertimbangkan kriteria ; pola kerja, beban kerja, pengendalian, rentang kendali dan pedoman. Sedangkan dalam hal kebutuhan personil, maka sebaiknya mempertimbangkan factor kemampuan. Jumlah personil dalam organisasi pengelola persampahan harus mencakup kebutuhan tenaga staf dan tenaga operasional.
Untuk memudahkan perhitungan kebutuhan personil, dapat dilakukan dengan pendekatan setiap 1000 (seribu) jiwa penduduk dibutuhkan 2 (dua) orang petugas.

Peraturan-peraturan

Pengelolaan persampahan suatu daerah sangat ditentukan oleh peraturan yang mendukungnya. Peraturan-peraturan tersebut melibatkan wewenang dan tanggung jawab pengelola kebersihan serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan pembayaran retribusi.
Macam-macam peraturan daerah yang merupakan dasar hukum bagi pengelolaan persampahan adalah ;
Peraturan daerah yang dikaitkan dengan ketentuan umum pengelolaan kebersihan yang ditujukan bagi masyarakat.
Peraturan daerah mengenai pembentukan institusi formal.
Peraturan daerah yang menentukan struktur tarif dan tarif dasar pengelolaan kebersihan.
Operasional
Teknik operasional pengelolaan persampahan dimulai dari pewadahan/penyimpanan pada sumber sampah, kegiatan pengumpulan, pengangkutan serta pembuangannya disuatu tempat yang aman serta tidak mengganggu lingkungan baik manusia, flora dan fauna atau sumberdaya lainnya.
Tindakan Yang Dapat Dilakukan Untuk Menanggulangi Sampah
1. Reduce (Mengurangi Sampah)
Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus barang belanja.
Membeli kemasan isi ulang untuk shampoo dan sabun daripada membeli botol baru setiap kali habis.
Membeli susu, makanan kering, deterjen, dan lain-lain dalam paket yang besar daripada membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama.
2. Re-use (Menggunakan sisa sampah yang masih bisa dipakai)
Memanfaatkan botol-botol bekas untuk wadah.
Memanfaatkan kantong plastik bekas kemasan belanja untuk pembungkus.
Memanfaatkan pakaian atau kain-kain bekas untuk kerajinan tangan, perangkat  pembersih (lap), maupun berbagai keperluan lainnya.
3. Recycle (Daur Ulang Sampah)
Mengumpulkan kertas, majalah, dan surat kabar bekas untuk di daur ulang.
Mengumpulkan sisa-sisa kaleng atau botol gelas untuk di daur ulang.
 Menggunakan berbagai produk kertas maupun barang lainnya hasil daur ulang.
Manfaat Sampah Untuk Kehidupan
Untuk hal ini secara umum sampah dikenal menjadi dua jenis yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik yakni jenis sampah yang dapat diurai oleh mikroorganisme pengurai. Contohnya sisa-sisa sayur, buah, dedaunan dan sejenisnya. Sampah organik dikenal juga dengan istilah sampah basah.
Untuk jenis yang kedua yakni sampah anorganik, sampah anorganik yakni jenis sampah yang sulit atau tidak dapat diuraikan oleh mikrooraganisme pengurai, yang sehingga berpotensi merusak lingkungan. Contohnya sampah plastik, seng, kaleng dan sejenisnya. Sampah anorganik ini juga dikenal dengan istilah sampah kering.
Sampah dalam hal ini apabila tidak dikelola dengan cukup baik maka akan berpotensi merusak lingkungan. Dan dapat mengakibatkan pencemaran baik pada tanah, air atau pun udara. Akan tetapi jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah-sampah tersebut pun masih memungkinkan untuk dimanfaatkan baik dalam bentuk aslinya ataupun melalui proses pengolahan atau daur ulang.
Untuk hal demikian ini agar sampat tersebut tidak merusaka lingkungan ada baiknya kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa manfaat sampah dalam kehidupan sehari-hari, yang diantaranya seperti:
1. Bahan Dasar pembuat Pupuk Organik
Sampah organik ialah bahan dasar utama pemb uatan pupuk organik, jadi sampah-sampah organik yang dihasilkan oleh rumah tangga seperti sampah dapur tidak ada salahnya dikumpulkan di suatu tempat, kemudian diolah menjadi pupuk organik.
Sampah dapur dapat diolah menjadi pupuk organik pada “misalnya kompos” atau pun pupuk organik cair. Namun, untuk sampah rumah tangga lebih disarankan untuk diolah menjadi pupuk organik cair. Hal ini mengapa, karena sampah rumah tangga kuantitasnya sedikit, namun selalu kontinyu atau terus menerus dihasilkan.
2. Untuk Pakan Ternak
Selain sampah organik seperti dedaunan yang masih hijau, sisa sayur dan buah dapat digunakan sebagai pakan ternak. Namun demikian pasti kan terlebih dahulu apakah dedaunan atau sisa sayur dan buah tersebut aman dan disukai oleh ternak anda. Karena tidak mungkin kan memberi sisa dedaunan pada ayam, tentunya harus sesuai juga dengan kebutuhan dan keinginan ternak.
3. Untuk Bahan Dasar Kerajinan Kreatif
Sampah dan barang-barang bekas juga masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai kerajinan tangan kreatif. Misalanya kertas plastik pembungkus sampo, deterjen, pewangi pakaian bisa dibuat menjadi tas atau dompet cantik. Plastik bekas pembungkus permen dapat disulap menjadi dompet unik dan lain-lain.
4. Membuat Pupuk Kompos
1) Kompos Jadi Siap Pakai
Kompos alami banyak terdapat di lahan-lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembangan sampah organik. Untuk mendapatkannya :
(1)   Gali tumpukan sampah (garbage atau sampah lapuk) yang sudah seperti tanah.
(2)   Pisahkan dari bahan-bahan yang tidak dapat lapuk.
(3)   Jemur sampai kering, lalu ayak.
(4)   Bubuhkan 50 – 100 gram belerang untuk setiap 1 kg tanah sampah.
Bahan:
(1)   2 1 /4 hingga 4 m3 sampah lapuk (garbage).
(2)   6,5 m3 kulit buah kopi.
(3)   750 kg kotoran ternak memamah biak (± 50 kaleng ukuran 20 liter).
(4)   30 kg abu dapur atau abu kayu.
2) Cara Membuat :
(1)   Buatlah bak pengomposan dari bak semen. Dasar bak cekung dan melekuk di bagian tengahnya. Buat lubang pada salah satu sisi bak agar cairan yang dihasilkan dapat tertampung dan dimanfaatkan.
(2)   Atau buatlah bak pengomposan dengan menggali tanah ukuran 2,5 x 1 x 1 m (panjang x lebar x tinggi). Tapi hasilnya kurang sempurna dan kompos yang dihasilkan berair dan lunak.
(3)   Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu. Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi 1 meter, tanpa dipadatkan supaya mikroorganisme aerob dapat berkembang dengan baik. Kemudian taburi bagian atas tumpukan bahan tadi dengan abu.
(4)   Untuk menandai apakah proses pengomposan berlangsung dengan balk, perhatikan suhu udara dalam campuran bahan. Pengomposan yang baik akan meningkatkan suhu dengan pesat selama 4 – 5 hari, lalu segera menurun lagi.
(5)   Tampunglah cairan yang keluar dari bak semen. Siram ke permukaan campuran bahan untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat proses pengomposan.
(6)   2 – 3 minggu kemudian, balik-balik bahan kompos setiap minggu. Setelah 2 -3 bulan kompos sudah cukup matang.
(7)   Jemur kompos sebelum digunakan hingga kadar airnya kira-kira 50 -60 % saja.
(8)   Kalau di daerah kita tidak tersedia kulit buah kopi, cara ke II dapat diadaptasi dengan menggantikan kulit buah kopi dengan hijauan seperti Iamtoro ataulainnya.